Japan Open 2026 - Sindhu Akhiri Puasa Gelar

Pusarla V. Sindhu (Djarum Badminton)
Pusarla V. Sindhu (Djarum Badminton)
Internasional ‐ Created by EL

Tokyo | Sudah empat tahun berlalu sejak Pusarla V. Sindhu terakhir kali menjuarai turnamen level atas Tur Dunia BWF. Gelar juara Super 500 terakhirnya diraih pada Singapore Badminton Open 2022. Meski sempat merebut gelar Super 300 dan menyumbang medali emas Commonwealth Games 2022, gelar prestisius terakhir yang diraihnya sebelum Japan Open 2026 adalah Kejuaraan Dunia BWF 2019, tujuh tahun silam.

Penantian panjang itu akhirnya berakhir di Tokyo. Rasa lega dan sukacita terpancar jelas dari wajah Sindhu usai menjuarai Japan Open 2026. Keberhasilan merebut gelar juara turnamen BWF World Tour Super 750 tersebut bukan hanya mengakhiri paceklik gelar juara di level elite, tetapi juga mengirimkan sinyal bahwa peraih dua medali Olimpiade itu kembali menjadi salah satu kandidat kuat pada Kejuaraan Dunia BWF mendatang.

Pada partai puncak, Minggu (19/7), Sindhu menghadapi tantangan berat saat berjumpa dengan andalan tuan rumah, Akane Yamaguchi, pemilik rekor empat gelar juara Japan Open. Sejak awal pertandingan, Sindhu tampil disiplin dan siap meladeni permainan reli khas Yamaguchi. Salah satu momen yang menjadi penentu terjadi pada awal gim kedua ketika reli sepanjang 44 pukulan dimenangkan Sindhu. Reli tersebut menunjukkan kegigihannya mengejar setiap bola sekaligus perlahan menguras stamina sang lawan.

Yamaguchi berupaya bangkit dan beberapa kali memberikan perlawanan sengit. Namun, setelahmelewati dua pertandingan berat menuju final, Yamaguchi gagal mempertahankan intensitas permainannya hingga akhir laga. Sindhu pun memanfaatkan momentum tersebut untuk menutup pertandingan dengan kemenangan straight games 21-17, 21-17 sekaligus memastikan gelar juara.

"Sangat, sangat bahagia. Rasanya tak bisa diungkapkan dengan kata-kata," ujar Sindhu sebagaimana dilaporkan laman Federasi Bulu Tangkis Dunia.

Sindhu mengaku gelar Japan Open 2026 memiliki makna istimewa karena mengakhiri puasa gelar selama 19 bulan. Ia menilai, mencapai partai puncak merupakan sebuah pencapaian, tetapi keluar sebagai juara dan berdiri di podium teratas memberikan kepuasan yang jauh lebih besar. "Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi. Meskipun sempat unggul, saya juga sempat melakukan kesalahan. Jadi, penting bagi saya untuk tetap tenang dan fokus pada setiap poin," kata atlet berusia 31 tahun tersebut.

Sindhu mengungkapkan, kunci keberhasilannya adalah menjaga pola pikir tetap positif dan mempertahankan agresivitas sepanjang pertandingan. Menurutnya, menghadapi pemain-pemain papan atas menuntut fokus penuh karena sedikit saja lengah dapat mengubah jalannya laga. "Saya sempat tak bisa menahan emosi di akhir pertandingan. Ada beberapa reli panjang dan saya berhasil memenangkan beberapa di antaranya. Hal itu sangat krusial," tuturnya.

Sementara itu, Yamaguchi mengakui bahwa Sindhu tampil lebih baik sehingga ia harus mengakui kekalahan pada final. "Saya sangat kecewa," kata Yamaguchi.

Yamaguchi mengatakan, kondisinya tidak mengalami cedera, tetapi kelelahan akibat menjalani sejumlah pertandingan berdurasi panjang sebelum final, memengaruhi performanya. Menurutnya, faktor tersebut membuatnya kesulitan mempertahankan tempo permainan cepat, sementara upayanya meraih poin melalui permainan bertahan mampu diantisipasi dengan baik oleh serangan agresif Sindhu. "Permainan saya hari ini kurang maksimal. Sindhu bermain sangat baik, dia tampil sangat agresif dan smesnya pun kuat," pungkasnya.