Ia mengawali upayanya mempertahankan gelar juara dengan menaklukkan Amalie Schulz asal Denmark lewat dua gim langsung, 21-10, 21-17, Rabu (21/1). Laga perdana tersebut dijalaninya setelah tampil pada dua turnamen secara beruntun, yaitu Malaysia Open 2026 dengan capaian perempat final serta India Open 2026 dengan status semifinalis.
"Saya hanya berusaha melakukan yang terbaik setiap harinya. Saya tidak berpikir harus mempertahankan gelar juara atau apa pun, karena sebelum Malaysia saya merasa kondisi saya belum sepenuhnya prima," jelas Intanon kepada Djarum Badminton, ditemui usai laga berdurasi 32 menit tersebut.
Ia menegaskan, menjaga kebugaran menjadi prioritas utamanya dalam menjalani seluruh rangkaian kompetisi, dengan harapan dapat menuntaskan setiap turnamen tanpa mengalami cedera. "Jadi, saya berusaha menjaga kebugaran dan menikmati setiap momen yang saya jalani," katanya.
Rasa takut atau kekhawatiran berlebihan terhadap kekalahan, menurut Intanon, justru dapat menghilangkan kebahagiaan, sementara ia memilih untuk tetap menikmati setiap pertandingan yang dijalaninya. "Selain itu, saya juga berjanji kepada ibu saya yang telah meninggal untuk meraih prestasi di ajang-ajang penting, seperti Asian Games dan tentu saja Olimpiade," tuturnya.
Peraih medali emas SEA Games Thailand 2025 itu kembali menegaskan pentingnya menjaga kebugaran tubuh sebagai modal utama, seraya menyebut pengalamannya yang kian matang membuatnya kini lebih fokus menikmati keindahan permainan bulu tangkis. "Banyak orang mengira saya tidak bisa rileks atau susah santai, tetapi itulah diri saya. Saya hanya perlu menyeimbangkan semuanya," katanya.
Di sisi lain, Intanon mengaku selalu menikmati berkompetisi di Indonesia, terutama saat tampil di Istora, yang menurutnya menjadi arena legendaris dengan tantangan tersendiri bagi banyak pemain. "Saya merasa bisa bermain cukup baik. Di lapangan ini, meski banyak yang mengatakan bahwa kok sulit dikontrol, saya justru merasa mampu melakukan apa yang saya inginkan," tuturnya.
"Namun, memang tidak selalu berjalan seperti itu. Saya justru menganggapnya sebagai sebuah tantangan, bagaimana beradaptasi dengan kondisi di lapangan, dan bagi saya, di situlah keindahan bulu tangkis," demikian Intanon.



