"Ya, senang. Tahun ini membawa anak-anak didik di Gideon Badminton Academy bisa masuk ke pelatnas. Hasilnya juga bagus, ranking juara di Seleknas, ya, kita bangga," tanggap Marcus kepada wartawan, ditemui usai laga final tersebut di Majeh Arena, Karawang, Jawa Barat, Sabtu (7/2) petang.
"Apalagi Marcel sudah dari kecil sama kita. Sementara, Joven masih baru, tetapi kita bisa improve dan bisa mengimbangi banyak pemain Indonesia dan bisa juara satu di sini, itu sudah sangat luar biasa, menurut saya," Marcus, mengungkapkan.
Marcus mengungkapkan, proses pembinaan tetap kembali bergantung pada kemauan atlet itu sendiri. Dengan dukungan dari para pelatih serta pemain senior yang kerap hadir di GBA, mereka dapat berbagi ilmu dan memberi masukan teknis, mulai dari cara mencari poin hingga mengontrol permainan di lapangan.
Ia berpesan agar Joseph/Joven yang baru menapaki level pelatnas, siap menghadapi tantangan yang semakin berat ke depan. Menurutnya, setiap jenjang yang dilalui akan terasa semakin sulit, dan perjalanan untuk menembus jajaran pemain atau pasangan top dunia membutuhkan kerja keras serta konsistensi yang lebih besar. "Ini jalan yang sudah dipilih, harus dilakukan semaksimal mungkin," tegasnya.
"Terus belajar karena kita nggak tahu ke depan akan bagaimana. Dan yang paling penting, setiap usaha harus maksimal," Marcus, menambahkan.
Joseph/Joven mencatatkan satu kemenangan dan dua kekalahan di fase grup sehingga berakhir dengan status runner-up Grup D. Namun, keduanya bangkit di fase gugur dengan meraih kemenangan beruntun, diawali dengan menyingkirkan Muhammad Rizki Mubarrok/Raihan Daffa Edsel Pramono di perempat final, lalu melaju ke partai puncak usai mengalahkan pasangan Jaya Raya Jakarta, Christian Aldo Sanjaya/Yugo Alvaro Gunawan, di semifinal.
Di final, Joseph/Joven mengalahkan Ardiola/Raffarel melalui dua gim langsung 21-19, 21-19.


