Mereka Masih Mengejar Mimpi

Nozomi Okuhara & Ratchanok Intanon (Djarum Badminton)
Nozomi Okuhara & Ratchanok Intanon (Djarum Badminton)
Internasional ‐ Created by EL

Jakarta | Beberapa hari sebelum Carolina Marín mengumumkan pensiun dari karier profesional bulu tangkis, Nozomi Okuhara, salah satu rivalnya di gelanggang bulu tangkis dunia, menempati podium teratas Orléans Masters 2026. Atlet asal Jepang itu memenangi duel beda generasi melawan wakil Thailand, Pitchamon Opatniputh, pada partai puncak di Palais des Sports, Orléans, Prancis, Minggu (22/3).

Tak lama setelah menjuarai turnamen bulu tangkis level BWF World Tour Super 300 tersebut, percakapan menarik muncul di jagat maya X yang melibatkan PV Sindhu, Ratchanok Intanon, dan Nozomi Okuhara. Interaksi itu bermula dari cuitan akun @vinayakkm yang menyatakan, meski waktu telah berlalu, para pemain dari generasi emas tunggal putri masih mampu bersaing ketat menghadapi gelombang pemain muda yang terus bermunculan.

"Nozomi Okuhara, Ratchanok Intanon and PV Sindhu are all on the other side of 30, but keep going through the grind. Good stuff," tulis @vinayakkm pada Minggu (22/3).

Sindhu pun merespons cuitan tersebut. Teks dari tunggal putri India itu, dalam terjemahan bahasa Indonesia kira-kira berbunyi, "Ha ha, kami hanya berusaha mengimbangi para pemain muda sambil menikmati setiap pertandingan. Mereka tampaknya mampu mengembalikan hampir semua pukulan yang kami lepaskan. Meski begitu, harus diakui pemulihan kini memakan waktu lebih lama, dan sesi berendam es terasa berlangsung sangat lama."

Tak lama berselang, tunggal putri Thailand, Intanon, membalas, "Haha, kamu membuatku tertawa! Kami masih di sini untuk mengejar mimpi dan tetap menikmati permainan, meski usia mulai memberi pengaruh pada kondisi tubuh. Proses pemulihan kini memang membutuhkan waktu lebih lama. Selamat, @nozomi_o11."

"Terima kasih. Mari terus menikmati permainan dan menantang diri kita sendiri," Okuhara, membalas dengan menambahkan emoji api di ujung cuitannya.

Tiga pemain tersebut sama-sama lahir pada 1995. Intanon lahir pada Februari, Okuhara sebulan kemudian, dan Sindhu pada Juli. Hingga kini, ketiganya masih terus bersaing di level tertinggi Tur Dunia BWF. Dalam tur Eropa yang berakhir beberapa pekan lalu, hanya Okuhara yang berhasil naik ke podium teratas, mengakhiri penantian gelarnya sejak terakhir kali menjuarai turnamen BWF Tour Super 100 Indonesia Masters II 2025 di Medan.

Namun, dalam rangkaian tur Eropa tersebut, langkah Intanon di All England Open 2026 terhenti di babak pertama setelah memutuskan mundur saat menghadapi wakil Singapura, Yeo Jia Min. Nasib serupa juga dialami Okuhara yang harus mengakui keunggulan kompatriotnya, Tomoka Miyazaki, lewat pertarungan tiga gim. Sementara itu, Sindhu tidak ambil bagian dalam turnamen bergengsi tersebut setelah penerbangannya ke Inggris dibatalkan akibat konflik di Timur Tengah yang mengganggu lalu lintas udara.

Selepas tur Eropa, Intanon, Okuhara, dan Sindhu, bersiap kembali bersaing pada Badminton Asia Championships 2026 yang berlangsung di Ningbo, China, 7–12 April. Intanon dijadwalkan menghadapi wakil Korea Selatan, Kim Ga Eun, Okuhara bertemu pemenang babak kualifikasi Grup A, sementara Sindhu akan berhadapan dengan pemain Malaysia, Wong Ling Ching.

Pada saat ketiganya tengah mempersiapkan diri untuk menghadapi kejuaraan Asia tersebut, dunia bulu tangkis dikejutkan oleh keputusan Marin --yang terpaut sekitar dua tahun lebih tua dari tiga tunggal putri tersebut-- untuk gantung raket. Atlet asal Spanyol itu tidak mampu pulih sepenuhnya dari cedera lutut serius ketiga yang dialaminya, sehingga harus mengakhiri kariernya lebih cepat.

BWF melalui lamannya pada Jumat (27/30 menyebutkan, kehadiran Marin sebagai berkah bagi dunia bulu tangkis karena muncul di tengah era keemasan tunggal putri yang diwarnai persaingan sengit dengan karakter permainan yang beragam. Selain Sindhu, Intanon, dan Okuhara, sektor ini juga dihuni deretan pemain elite seperti Tai Tzu Ying, Sung Ji Hyun, Saina Nehwal, Akane Yamaguchi, Li Xuerui, Wang Yihan, Wang Shixian, Chen Yufei, Michelle Li, serta Beiwen Zhang. "Kehadiran para pemain tersebut secara kolektif mengangkat pamor tunggal putri, bahkan melampaui popularitas nomor lainnya pada periode tersebut," tulis BWF.