Mengapa Kim/Seo Sulit Dikalahkan?

Kim Won Ho/Seo Seung Jae (Djarum Badminton/Edward Luhukay)
Kim Won Ho/Seo Seung Jae (Djarum Badminton/Edward Luhukay)
Internasional ‐ Created by EL

Jakarta | Kim Won Ho/Seo Seung Jae menutup musim lalu dengan torehan bersejarah setelah meraih gelar juara ke-11 melalui kemenangan di final BWF World Tour Finals 2025. Konsistensi tersebut berlanjut pada awal musim kompetisi 2026, ketika mereka menjuarai dua turnamen level BWF World Tour Super 1000. Ganda putra Korea Selatan itu adalah pasangan nomor satu dunia, dan mereka sulit ditaklukkan di level elite dunia. Lantas, apa kunci di balik ketangguhan mereka?

Pemain ganda putra India, Chirag Shetty, berpendapat, pertama, setiap pasangan yang ingin mengalahkan Kim/Seo harus memiliki kondisi fisik prima. Pasangan terbaik 2025 versi BWF itu dikenal mampu terus bangkit dan menjaga intensitas permainan sepanjang laga. "Anda tidak bisa berharap mereka memberikan poin dengan mudah," kata partner Satwiksairaj Rankireddy itu melalui sebuah video bertajuk "Chirag Shetty shares why Kim/Seo are tough opponents", dalam kanal Shorts di akun YouTube BWF TV.

"Saya rasa semua pemain di tur ini bisa dikalahkan. Namun, dibutuhkan konsistensi lebih, dan mereka lebih stabil dibandingkan yang lain," Shetty, menambahkan.

Lebih lanjut Shetty menjelaskan, konsistensi menjadi faktor utama yang membuat Kim/Seo mampu memenangi begitu banyak pertandingan. "Jika mampu bermain konsisten, menerapkan taktik dengan baik, dan tampil cerdas, saya rasa pasangan lain bisa mengalahkan mereka," katanya.

Sementara itu, pelatih ganda putra Asosiasi Bulu Tangkis Malaysia, Herry Iman Pierngadi, berharap, Aaron Chia/Soh Wooi Yik mampu membalas kekalahan dari Kim Won Ho/Seo Seung Jae. Kedua pasangan tersebut menempati unggulan pertama dan kedua pada Badminton Asia Championships (BAC) 2026 yang akan berlangsung di Ningbo, China, 7–12 April. "Harapan saya adalah kembali menghadapi Korea di final. Untuk mengalahkan mereka, kami harus bermain menyerang. Jika bertahan, kami tidak akan mampu menandingi mereka," ungkap Herry, dilansir New Straits Times, Rabu (25/3).

Dalam pertemuan terakhir pada final All England 2026, pasangan negeri jiran itu kalah dari Kim/Seo melalui tiga gim 21-18, 12-21, 19-21. Hasil tersebut menjadi kekalahan ketiga Aaron/Soh di partai puncak All England, setelah kalah pada edisi 2019 dan 2024. 

Sebelum bertemu Aaron/Chia pada final All England 2026, Kim/Seo mengalahkan pasangan muda asal Indonesia, Raymond Indra/Nikolaus Joaquin melalui straight games 21-19, 21-13. Kompas pada Senin (9/3) menyebutkan, pola permainan menyerang cepat Raymond/Nikolaus pada akhirnya mampu diredam Kim/Seo. Pasangan "Negeri Ginseng" itu sempat tertinggal tiga poin di pertengahan gim pertama, yaitu pada skor 8-11 dan 12-15. Dalam situasi tersebut, kapasitas Kim/Seo sebagai pemain papan atas terlihat lewat permainan yang tetap tenang meski terus mendapat tekanan sejak awal reli. 

"Kecepatan pasangan Indonesia berusia 21 dan 20 tahun itu diredam dengan kecerdikan Kim/Seo dalam melihat celah di lapangan lawan. Ke arah celah inilah, mereka menempatkan pukulan, baik dengan smes atau dengan mengubah ritme permainan, seperti melakukan dropshot," surat kabar harian tersebut, melaporkan.

Dalam artikel dengan kepala berita "Oleh-oleh Raymond/Nikolaus" itu juga disebutkan, perbedaan lain antara Kim/Seo dan Raymond/Joaquin ada pada penyelesaian akhir. Pasangan "Merah Putih" kerap melakukan kesalahan dalam penyelesaian akhir setelah merancang serangan, tetapi hal yang sama sangat jarang terjadi pada Kim/Seo.