"Untuk ganda campuran, dari dua turnamen ini hasilnya juga masih belum maksimal. Di International Challenge kita mendapat satu gelar melalui Dejan (Ferdinansyah)/Apriyani (Rahayu), sementara di Indonesia Masters mereka mencapai semifinal. Di perempat final memang ada tiga pasangan, tetapi hasil akhirnya masih belum sesuai harapan," paparnya melalui keterangan pers Humas dan Media PP PBSI, Minggu (6/9).
"Masih banyak yang perlu diperbaiki, terutama pola permainan dengan pasangan-pasangan baru, konsistensi, fisik, dan mental," Rijal, menambahkan.
Lebih lanjut Rijal berpendapat, para pemain masih menghadapi kesulitan dalam menjaga momentum, terutama saat berhadapan dengan pasangan China, baik ketika berada dalam posisi unggul maupun tertinggal. Menurutnya, hal tersebut menjadi salah satu catatan penting yang perlu dievaluasi agar permainan sektor ganda campuran dapat berkembang lebih matang dan konsisten pada turnamen-turnamen berikutnya.
"Secara keseluruhan, hasil dan penampilan di Polytron Pontianak Indonesia Masters 2026 menjadi bahan evaluasi bagi tim pelatih untuk melihat perkembangan masing-masing pemain sekaligus menentukan program latihan berikutnya," jelasnya.
Ia pun berharap, berbagai catatan hasil evaluasi tersebut dapat segera dibenahi agar para pemain Indonesia mampu tampil lebih konsisten dan meraih hasil yang lebih baik pada turnamen-turnamen berikutnya.
Tuan rumah Indonesia gagal meloloskan satu pun wakil ke partai puncak nomor ganda campuran pada Polytron Pontianak Indonesia Masters (IM) 2026. Hasil tersebut bertolak belakang dengan pencapaian sepekan sebelumnya, ketika Dejan/Apri berhasil merebut gelar juara pada Polytron Pontianak IC 2026.
Dalam laga final tersebut, Dejan/Apri harus berjuang keras untuk mengatasi perlawanan pasangan Taiwan, Sheng-Ming Lin/Liang Ching Sun, Minggu (30/8). Di hadapan publik yang memadati GOR Terpadu Ahmad Yani, keduanya membutuhkan waktu 71 menit untuk mengamankan kemenangan dramatis tiga gim dengan skor 19-21, 27-25, 21-19.


